Translate

Kamis, 07 Juni 2012

Feature

 
Maut Mengawali Hari Terakhir Ujian Tantri

          Kepanikan dialami seorang siswa SMA N 1 Tinanggea kabupaten Konawe Selatan dihari terakhir pelaksanaan ujian Nasional. Seorang siswa kelas XII IPA yang bernama Tantri mengalami kejadian yang sangat tragis.  tepat dipagi hari sebelum tiba disekolah, siswa yang kesehariannya mengendarai motor untuk sampai di sekolahnya mengalami tragedi yang sangat tidak diharapkan. Tantri yang harus mengendarai motor 7 km untuk tiba disekolahnya dari rumah kediamannya, mengalami kecelakaan motor yang berakibat sangat fatal.
          Kamis, 21 April 2011 Tantri menabrak seorang anak kecil yang sedang menyebrang jalan ketika meniltas. Anak kecil yang masih lugu dan belum terlalu tau seluk beluk jalan raya, tewas ditempat. Karena peristiwa ini terjadi tepat di depan rumah korban yang ditabrak membuat orang tua korban meras sangat terpukul. Kejadi ini membuat pula para tetangga merasa sangat sedih dan tidak menyangka. Kejadian tragis yang menimpa anak kedua bersaudara inilah penyebab kepanikan yang dialami Tantri.
          Kejadian ini terjadi berawal kan si korban anak kecil yang bernama Fadli ternyata seorang anak yang baru duduk di salah satu sekolah taman kanak-kanak. Ketika itu Fadli hendak pergi ke sekolah dan akan diantar oleh kakak korban yang menunggu diseberang jalan. Ketika Fadli menyebrang, saat bersamaan Tantripun melintas dengan kecepatan yang cukup tinggi sehingga menabrak si Fadli yang malang hingga terlempar cukup jauh hingga akhirnya meninggal.
          Ketika kejadian itu berlangsung bertepatan dengan pelaksanaan ujian yang terakhir. Tantri hanya bias terdiam tidak dapat berkata-kata karena saking syok dengan apa yang tengah ia alami. Hanya air mata yang bias di keluarkan oleh Tantri sebagai luapan rasa takut dan panik ketika tidak menyangka akan mengalami hal tragis seperti yang di alami saat itu. Tantri sangat pasrah, apalagi disaat itu orang tua korban langsung menelpon polisi setempat.
Kedatangan polisi menambah ketakutan yang dirasakan oleh Tantri. Namun, pihak polisi dan korban memberikan kebijakan kepada Tantri untuk ke sekolah mengikuti ujian, dengan catatan pihak kepolisian ikut serta mengawasi. Dapat dipastikan pada saat Tantri mengerjakan soal-soal ujian Nasional tidak ada konsentrasi.
         Kesedihan mendalam bukan hanya di alami oleh korban dan Tantri melainkan teman-teman Tantripun banyak yang merasa  sedih. Begitu berat musibah yang menimpah siswa SMA ini karena harus melaksanakan ujian dengan pikiran sembraut. Orang tua Tantri yang saling mengenal dengan orang tua korban hanya mampu mengatakan maaf. Tidak ada dendam yang tampak dari orang tua korban namun tetap harus ditindaki pihak kepolisian. Sehingga selama ujian Tantri dijaga dan di awasi oleh pihak kepolisian. 
         Selesai ujian, tanpa pulang kerumah lagi, Tantri langsung dibawa kemapolres punggaluku untuk diinterogasi. Orang tua korban, orang tua tantric dan beberapa saksi telah menunggu untuk dimintai keterangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar