Translate

Kamis, 07 Juni 2012

MOZAIK DERITA


          Aku seorang buruh disebuah kampong. Aku sekarang sedang dihipnotis untuk berpikir bagaimana mencari uang yang banyak dan tetap dengan cara halal. Istriku yang sedang sakit asam urat membutuhkan obat untuk sekedar mencegah rasa sakit yang dapat hadir kapan saja. Akupun rela bekerja seharian tanpa memperdulikan lagi tubuhku yang sudah renta ini yang kusam dan penuh daki karena tidak ada waktu untuk merawatnya.
         Suatu hari saat jam menunjukan pukul 05.00 dini hari dengan iringan kokokan ayam aku bersiap-siap menuju tempat bekerja. Tempatnya cukup jauh dari tempat tinggalku disehamparan sawah milik tetangga yang siap dipanen. Disitulah hari ini akan kuhabiskan hariku untuk memanen padi, karena tidak memiliki kendaraan jenis apapun aku harus berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk sampai di sawah terseebut. Sepanjang jalan kutanamkan dalam pikiran bahwa hari ini aku harus mampu menyelesaikan semuanya. Sehingga upah dari hasil kerja bias kuambil sebentar malam. Nah, natinya uang dari upahku akan kupakai membelikan obat dan makanan yang bergizi untuk istriku yang tercinta. Dialah motifatorku selama ini.
          Hari yang cerah menyambutku disehamparan sawah yang ditanami padi seluas 20an hektar milik beberapa orang dikampung tempat tinggalku yang menguning. Matahri indah mulai mengintip diufuk timur. Setengah hektar dari 20 hektar yang ada harus aku panen hari ini. Rasa letih karena telah berjalan cukup jauh menguap tanpa bekas karena diingatkan dengan bayangan senyum istriku dirumah. Sepanjang hari aku hanya beristahat diwaktu shalat dan makan siang dengan bekal yang kubawa dari rumah. Dan tanpa kusadari belum terlalu sore telah mampu kuselesaikan. Sehingga aku yakin upahku bisa aku ambil setelah tiba . rumah menjadi baying-bayang dipikiranku dan membuat reflex pada kaki-kai kekarku untuk melangkah menyusuri jalan pulang. beriringan dengan sekawanann burung-burung yang masih asyik berterbangan kesana kemari.
*  *  *
        Kaget bukan main setiba di rumah mendapatkan istriku terkulai lemas dilantai dekat pintu kamar mandi yang kumuh karena telah berpuluh tahun belum pernah direnovasi. Langsung kuhampiri dan membopongnya keranjang. Istriku tidak pingsan namun ia lemas karena asam urat yang ia derita kambuh. Kucari obat dilaci meja dekat ranjang ternyata yang tersisa tinggal pembungkusnya. Akupun saat sontak lari menuju rumah tetangga yang kukerjakan sawahnya. Dengan kaki gemetar karena panic kuketuk pintu rumahnya namun tidak kunjung dibuka. Saat kumulai putus asa dan hendak berbalik akan pulang tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Langsung kuutarakan maksud kedatanganku bahwa untuk mengambil uang dari upah kerjaku seharian. Perempuan gendut dihadapanku sipemilik sawahpun merogoh saku daster yang ia kenakan dan mengeluarkan uang 25 ribu rupiah sebagai upah kerjaku. Ucapan terimakasih terlontar dari mulutku dan sebagai pengakhir aku berdiri dihadapan rumah besar itu.
        Tanpa berpikir panjang aku langsung lari kesebuah warung namun obat yang kucari tidak ada. Terpaksa aku harus pergi ke Apotik Puskesmas di Kecamatan. Akupun bergegas pergi dengan mengendarai sepeda butut yang kupinjam dari tetangga. Setibanya di apotik aku langsung menanyakan obat yang dibutuhkan istriku dengan secukup uang yang ada. Dengan sisa-sisa tenaga dalam aliran tubuhku hari ini kukayuh sepeda dengan perasaan senang, kesabaran untuk cepat tiba di rumah tidak terkendali dan membuat sarafku menginstruksikan seluruh energy dalam tubuhku agar memacu lebih kuat lagi.
*  *  *
         “minumlah dulu obat ini ma…!” sambil kusodorkan secangkir air hangat. Sembari selesai meminumnya, istriku menggenggam jemariku. Usapan lembut kulayangkan di kepala istriku yang telah dibalut rambut putihnya. Tetapi, istrikku langsung bangkit dan duduk menghadapku. Tatapan tajam dari mata bulatnya yang telah menempel katarak sehingga iapun sudah rabun dalam melihat. “kembalikan anakku” dengan terbata-bata kata itu diucapkannya. Aku hanya mampu tertunduk lesu. Istriku saat itu menjadi-jadi dengan gaya tinju perempuan ia mengarahkannya ketubuhku sambil menjeritkan nama anak kami.
“pak aku ingin sekali punya uang yang banyak” pernyataan terakhir anak tunggalku. Aku hanya terdiam saat itu. Tapi anakku punya niat yang sangat besar. Sehingga keesokan hari dipagi hari buta saat aku sudah terjaga dari tidur, kegelisahan menyergap pikiranku. Aku pun beranjak ke kamar anak tunggalku dan ternyata benar, aku telah mendapati kamarnya dalam keadaan lengang dan terdapat sepucuk surat. Bergegas kumenghampiri istriku dan kuserahkan surat yang ambil dari kamar anak kami untuk membaca isinya karena aku tak tahu membaca sama sekali. Istriku kaget dan langsung menarik kertas itu dan mulai membacanya.
         “ma pa reni pergi dulu ya. Suatu saat reni akan pulang membawa uang yang banyak. Mama dan bapa nggak usah khawatir. Reni saying mama dan bapak.”
Yah kejadian itu 10 tahun yang lalu membuat istriku terpuruk hingga sekarang. Hanya 15 tahun aku merasa kebersamaan dengan putriku an dia belum pernah kembali sampai saat ini. Aku telah berusaha mencarinya kemana-mana tak kunjung kutemukan. Kami sudah pasrah saat itu.
“pak aku nyusul reni ya?” permintaan istriku yang mulai ngelantur. Aku hanya dapat berkata “sudahlah tenang ma, nanti juga reni pulang dia sekarang lagi kumpulin uang buat kita.” Istriku tidak percaya dan mulai hilang kendali menangis hingga terisak. Aku dengan sabar menenangkannya. Kupangku kepalanya, kuberikan penjelasan dan iapun mulai tenang dan sangat tenang bahkan sampai tertidur pulas. Lalu kucoba perlahan memindahkan kepalanya ke bantal namun tak sengaja kepala istriku tettumbuk di kayu penyanggah kelambu tetapi ia tetap tenang. Dan ternyata setelah kusadari ketenangan istriku membuatku merasa berada di atas gunung berapi yang akan meletus, istriku meninggal aku berteriak, aku marah pada diriku, aku hanya mampu menjatuhkan air mataku.
   *  *  *
          Pemakaman usai. Para pelayat mengucapkan belasungkawa kepadaku secara bergiliran. Aku hanya tertuntuk lesu di samping pusaran istriku. Aku merasa sangat putus asa saat iitu, ingin rasanya aku bunuh diri saat itu menyusul istriku. Tapi aku teringat dengan Reni  dan yakin dia masih hidup.
          Aku coba tegar, dan beberapa setelah kepergian istriku, kumulai bisa kembali menapaki kehidupanku dengan semangat. Suatu pagi aku diajak seorang kawan untuk ikut bekerja di kebun milik sebuah perusahaan. Aku ikut, hamper sore pekerjaan belum juga selesai. Kami berlima merupakan teman kerja dan sekaligus tetangga rumah yang sudah sangat dekat. Kami memutuskan untuk pulang dan melanjutkan keesokan harinya.
 *  *  *
          Pagi sekali kami telah berkumpul kembali dikebun tempat kami bekerja kemarin, tetapi kali ini hanya kami berdua. Ketiga teman yangm lauainmemilik urusan yang sangat penting sehingga tidak dapat ikut serta. Kamipu berdu bekerja dengan giat dan pada saat matahari sudah erada di puncak kami pun beristrahat. Menyantap bekal masing-masing, temanku memungut jeruk yang jatuh dan memakannya. “manisnya ini jeruk, kenapa sampai dibiarkan berjatuhan seperti ijni”  dengan sumringah ia berkata. Akupun ikut mengambil jeruk yang berserakan. Temanku lalu beranjak dan meminta izin untuk pulang lebih dulu karena ada urusan yang penting sore hari itu. Akupun tinggal sendiri dan masih bersantai menikmati beberapa biji jeruk.
          Tiba-tiba segerombolan orang datang menghampiriku. Mereka hendak melihat-lihat, tetapi saat mereka melihat ada kulit jeruk disekitarku ia sontak geram. “ oh begitu kerjamu di kebunku ya? Memakan buah orang sembarangan.” Kata salah satu dari mereka. Aku begit kagit dan langsung meminta maaf, akan tetapi tanganku malah ditepis dan aku di dorong hingga terjatuh sambil menyuruhku pergi dari kebunnya, “ awas kamu” katanya. Aku pulang dengan pikiran berkecamuk antara menyesal dan takut.
*  *  *
          Tok…tok…tok…, pintu rumahku diketuk dengan keras dan kubuka ternyata dua orang berseragam polisi dan berkata “ benar ini rumah pak Ahmad?” “iya” jawabku. Tanpa panjang lebar kedua polisi itu membawaku ke kantor polisi untuk di interogasi. Aku tak menyangka ancaman pemilikm kebun jeruk itu akan menjadi kenyataan yang menyeramkan seperti ini, aku takut dan merasa bersalah. Di kantor polisi aku dijejar dengan pertanyaaan dan aku menjawab dengan jujur dan aku akhiri dengan ucapan maaf. Tetapi dengan tegas polisi yang ada di dekatkku berkata “perkara bukan hanya diselesaikan dengan kata maaf.” Akupun terdiam, apalagi mendengar ucapan polisi satunya yang berkata “untuk penyelidikan lebih lanjut anda ditahan” hah aku tercengang, sekarang berada di dalam sel dengan umur 59 tahun hanya gara-gara memakan jeruk yang telah jatuh di tanah.
          Satu, dua haripun perkara disidangkan dan keputusannya dimenangkan oleh jaksa penuntut umum. Aku pasrah tanpa pengacara. Jangankan menyewa pengacara untuk makan saja susahnya minta ampun. Dan keputusannya aku dipenjara selama tiga tahun dan didenda 7 juta rupiah. Aku sedih dan teringat istriku, pasti istriku sangat malu melihat diriku jika ia masih hidup karena aku seorang pencuri. Aku piker buah yang sudah jatuh dari pada membusuk dimakan tidak akan menjadi perkara serumit ini.
Dua tahun tujuh bulan telah kujalani di penjara, aku lenih sering menghabiskan waktuku untuk mendekat diri tapi bukan berarti membuatku menjadi tegar. Pikiranku melayang menerawang dimana sebenarnya keberadaan anakku, apakah ia sudah meningga atau bagaimana. Aku mulai sakit-sakitan dan akupun tak tahan lagi ingin rasanya menyusul istriku disaat seperti ini. Dan aku sudah memutuskan tengah malam nanti aku akan mengakhiri semuanya…
*  *  *
           “ pak jangan bergerak dulu” suara lembut terdengar di telingaku. Namun, sungguh pening kepalaku sehingga membuatku tak dapat membuka mataku. Ternyata seorang suster berada disampingku saat ini. Akupun mulai sadar bahwa aku lagi terbujur di atas ranjang dengan perban luka dipergelangan tanganku. Tak kusadari air mata hangat melintas dipipi keriputku, sangat tragis yang kulakukan semalam tetapi tak menghantarku pada sosok yang aku cintai.
          Selama proses penyembuhan setelah usaha bunuuh diriku tak berhasil, aku tak pernah lagi memikirkan bagaimana hidupku kedepannya. Tapi, pada saat aku diruang perawatan, seorang tetangga dating menjengukku dan membawa kabar bahwa semnejak seminggu yang lalu terlihat ada yang tinggal dirumahku. Namun ia tidak tahu siapa dia. Aku sangat terkejut mendengar berita ini dan aku berharap anakkulah yang kembali.
          Pada saat kondisiku mulai membaik, aku bisa langsung pulang setelah diberi jaminan bebas dari pihak kepolisian. Sebenarnya masih ada beberapa bulan masa tahananku. Aku pulang dengan perasaan penasaran. Setibaku dirumah hanya satu yang ingin kuketahui bahwa siapa yang ada dirumah sekarang. Begitu terkejut kudapati anak gadisku menyambut dengan senyuman ramah yang sudah sangat lama tak kulihat. Yang tak kalah mengagetkan dia dalam keadaan hamil. Tanpa duduk terlebuh dahulu aku langsung melemparkan pertanyaan bertubi-tubi padanya. Anaku yang telah pergi belasan tahun lalu sekarang telah menjadi dewasa selama itu juga ia mengalami penyiksaan menjadi babu kontrak yang tak dapat berbuat apa-apa selain melayani majikannya. Dan sekarang dia hamil tanpa seorang suami. Aku juga mulai menceritakan kejadian yang aku alami malam ini.
          Dia hanya terisak mendengar semuanya yang kuceritakan. Sekarang kami hidup berdua menanti kelahiran cucu siapa tahu dapat membawa berkah.
selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar