1. Walaupun
matanya telah buta 60 tahun dia masih bisa membayangkan indahnya kota solo
2. Merasa
sudah dekat ajalnya bahkan sudah mendapat tanda akan dipanggil sampai pingsan
dan untung dibantu dengan seorang penjual rokok, dia menceritakan semua
perjalanan hidupnya
3. Dari
umurnya 23 tahun sebelum dia buta diceritakan perjalanan hidupnya sebagai
seorang priayi yang bernama Ndorobei
4. Menunggang
kuda adalah Kegemaran Ndorobei
5. Masih
muda dan cakap pujian orang-orang untuk Ndorobei
6. Berdandan
sangat digemari Ndorobei
7. Disuruhnya
Senen sebagai abdi untuk menyiapkan Duren
kudanya suatu pagi oleh Ndorobei
8. Disebuah
simpan jalan seorang gadis muncul
9. Terpesona
Ndorobei dengan kata-kata gadis itu
10. Dilatihnya
duren berlari dari padang luas ketimur alun-alun hingga kepinggir sungai
Bengawan Solo oleh Ndorobei
11. Menjelang
sore, Ndorobei memacu Duren kembali ke kota dan di jalan bertemu lagi dengan
gadis yang sama dengan diwaktu pagi
12. Sampai
di rumah, Senen abdi Ndorobei memberitahu bahwa Dimas Pradopo datang untuk
mengajak Ndorobei pergi dikeramaian waktu malam
13. Sambil
duduk dikursi goyang Ndorobei bertanya pada Senen mengenai keluarga gadis yang
ditemui tadi pagi meski tidak langsung pada masalah gadisnya.
14. Dimengertinya
pertanyaan tuanya oleh Senen dan menjelaskan dengan panjang lebar dan
memberitahu nama gadis itu yaitu tinah.
15. Datanglah Dimas Pradopo mengajak Ndorobei tapi Ndorobei
tidak ingin pergi alasan lelah habis berkuda seharian
16. Setelah
Dimas Pradopo pergi Senen memberitahukan tuanya bahwa Tinah telah memiliki
calon suami yang dikarenakan hutang orang tuanya
17. Mengetahui
tentang hal itu Ndorobei kecewa dan tidak ingin lagi membahasa tentang Tinah
dengan cara memejamkan matanya
18. Tertidur
dikursi goyang dan ditengah malam terjaga, lalu pindah di kamarnya namun Ndorobei
tidak dapat tidur lagi hingga subuh dan memutuskan pergi berjalan-jalan
menunggu pagi datang
19. Berjalan
menuju lorong kecil dan n Ndorobei pun bertemu lagi dengan Tinah
20. Kembali
pulang dan dipagar rumah Ndorobei telah disambut dengan Senen dengan sindiran
21. Malah
hari Senen disuruh oleh Ndorobei meamnggil
Mbok Joyo ibu Tinah dan tinak untuk datang kerumahnya
22. Keesokan
malamnya Mbok Joyo ibu Tinah dan tinak datang kerumah ke rumah Ndorobei dan
disuruhnya Mbok dan Tinah menempati rumah kecil dibelakang rumah Ndorobei
23. Ditolaknya
dengan sopan oleh Mbok Joyo dengan alasan rumah itu sudah diberikan pada Tinah
oleh calon suaminya
24. Keesokan
harinya tiba-tiba Tinah datang dengan tangisan di rumah Ndorobei, kemudian Ndorobei
menanyakan penyebabnya tapi tinah tidak berkata-kata
25. Dipanggilnya
Mbok Joyo dan ditanyai mengenai Tinah.
26. Tinah
diminta tinggal beberapa hari untu diberi nasehat oleh ndorobei
27. Setelah
seminggu Tinah dirumah Ndorobei maka Ndorobei pergi mengantarnya pulang
kerumahnya pada malam hari
28. Di
perjalanan pulan Ndorobei dan tinah dipalang oleh calon suami Tinah dan tiga
orang temanya
29. Dipukuli
Ndorobei dan ditusukan belati kedua matanya hingga buta dan Tinah diseret dan
di ikat di bawah pohon nangka
30. Setelah
sembuh Ndorobei pindah kekampung dan menjual semua hartanya lalu dibagikan pada
sanak saudaranya
31. Ndorobei
tinggal dikampung sebagai seorang tukang pijat dengan keadaan buta dan senen
juga tinggal dikampung
32. Setelah
beberapa tahun pelanggannya berkurang Ndorobei pindah kembali ditempatnya semula
dan meneruskan pekerjaannya menjadi tukang pijit.
33. Suatu
malam tidak disangka Tinah datang dirumahnya dan dalam keadaan buta pula.
34. Beberapa
hari tinggal bersama Tinah menceritakan perjalannya dari waktu mereka dipalang
hingga sekarang pada Ndorobei
35. Tidak
lama tinggal bersama Tinah meninggal
36. Ndorobei
menggu ajalnya tiba dengan tabah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar