Translate

Kamis, 07 Juni 2012

SEKUEN DALAM CERPEN AWAN-AWAN SENJA



1.      Walaupun matanya telah buta 60 tahun dia masih bisa membayangkan indahnya kota solo
2.      Merasa sudah dekat ajalnya bahkan sudah mendapat tanda akan dipanggil sampai pingsan dan untung dibantu dengan seorang penjual rokok, dia menceritakan semua perjalanan hidupnya
3.      Dari umurnya 23 tahun sebelum dia buta diceritakan perjalanan hidupnya sebagai seorang priayi yang bernama Ndorobei
4.      Menunggang kuda adalah  Kegemaran Ndorobei
5.      Masih muda dan cakap pujian orang-orang untuk Ndorobei
6.      Berdandan sangat digemari Ndorobei
7.      Disuruhnya  Senen sebagai abdi untuk menyiapkan Duren kudanya suatu pagi oleh Ndorobei
8.      Disebuah simpan jalan seorang gadis muncul
9.      Terpesona Ndorobei dengan kata-kata gadis itu
10.  Dilatihnya duren berlari dari padang luas ketimur alun-alun hingga kepinggir sungai Bengawan Solo oleh Ndorobei
11.  Menjelang sore, Ndorobei memacu Duren kembali ke kota dan di jalan bertemu lagi dengan gadis yang sama dengan diwaktu pagi
12.  Sampai di rumah, Senen abdi Ndorobei memberitahu bahwa Dimas Pradopo datang untuk mengajak Ndorobei pergi dikeramaian waktu malam
13.  Sambil duduk dikursi goyang Ndorobei bertanya pada Senen mengenai keluarga gadis yang ditemui tadi pagi meski tidak langsung pada masalah gadisnya.
14.  Dimengertinya pertanyaan tuanya oleh Senen dan menjelaskan dengan panjang lebar dan memberitahu nama gadis itu yaitu tinah.
15.  Datanglah  Dimas Pradopo mengajak Ndorobei tapi Ndorobei tidak ingin pergi alasan lelah habis berkuda seharian
16.  Setelah Dimas Pradopo pergi Senen memberitahukan tuanya bahwa Tinah telah memiliki calon suami yang dikarenakan hutang orang tuanya
17.  Mengetahui tentang hal itu Ndorobei kecewa dan tidak ingin lagi membahasa tentang Tinah dengan cara memejamkan matanya
18.  Tertidur dikursi goyang dan ditengah malam terjaga, lalu pindah di kamarnya namun Ndorobei tidak dapat tidur lagi hingga subuh dan memutuskan pergi berjalan-jalan menunggu pagi datang
19.  Berjalan menuju lorong kecil dan n Ndorobei pun bertemu lagi dengan Tinah
20.  Kembali pulang dan dipagar rumah Ndorobei telah disambut dengan Senen dengan sindiran
21.  Malah hari Senen disuruh oleh Ndorobei meamnggil  Mbok Joyo ibu Tinah dan tinak untuk datang kerumahnya
22.  Keesokan malamnya Mbok Joyo ibu Tinah dan tinak datang kerumah ke rumah Ndorobei dan disuruhnya Mbok dan Tinah menempati rumah kecil dibelakang rumah Ndorobei
23.  Ditolaknya dengan sopan oleh Mbok Joyo dengan alasan rumah itu sudah diberikan pada Tinah oleh calon suaminya
24.  Keesokan harinya tiba-tiba Tinah datang dengan tangisan di rumah Ndorobei, kemudian Ndorobei menanyakan penyebabnya tapi tinah tidak berkata-kata
25.  Dipanggilnya Mbok Joyo dan ditanyai mengenai Tinah.
26.  Tinah diminta tinggal beberapa hari untu diberi nasehat oleh ndorobei
27.  Setelah seminggu Tinah dirumah Ndorobei maka Ndorobei pergi mengantarnya pulang kerumahnya pada malam hari
28.  Di perjalanan pulan Ndorobei dan tinah dipalang oleh calon suami Tinah dan tiga orang temanya
29.  Dipukuli Ndorobei dan ditusukan belati kedua matanya hingga buta dan Tinah diseret dan di ikat di bawah pohon nangka
30.  Setelah sembuh Ndorobei pindah kekampung dan menjual semua hartanya lalu dibagikan pada sanak saudaranya
31.  Ndorobei tinggal dikampung sebagai seorang tukang pijat dengan keadaan buta dan senen juga tinggal dikampung
32.  Setelah beberapa tahun pelanggannya berkurang Ndorobei pindah kembali ditempatnya semula dan meneruskan pekerjaannya menjadi tukang pijit.
33.  Suatu malam tidak disangka Tinah datang dirumahnya dan dalam keadaan buta pula.
34.  Beberapa hari tinggal bersama Tinah menceritakan perjalannya dari waktu mereka dipalang hingga sekarang pada Ndorobei
35.  Tidak lama tinggal bersama Tinah meninggal
36.  Ndorobei menggu ajalnya tiba dengan tabah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar