Bagian I
Dalam situasi panggung yang
seakan-akan sangat sunyi, panggung
yang berlatar di sebuah teras rumah masih diterangi lampu
yang remang. Saat hari sudah mulai beranjak siang seorang kakek keluar dan
duduk di teras dengan senyum yang segar.
Kakek : Cepat sekali berlalu malam,
padahal saya belum merasa puas tidur semalaman. Apa ini pengaruh karena kemarin
saya terlalu banyak bekerja? Sehingga saya sangat lelah dan membutuhkan waktu untuk
beristirahat yang cukup.
Beranjak dari duduknya, kemudian
masuk, dan kembali keluar dengan membawa secangkir teh dan Koran.
Kakek : Huh…beritanya yang begini-begini
terus. Hah! Gila ini iklan, menjual rubah dengan harga selangit gitu siapa yang
tertarik. Apa juga gunanya mau beli rubah.
Menggeleng-gelengkan kepalanya
sambil meneguk tehnya.
Kakek : Rubah..rubah…
kaya emas aja, dijual mahal-mahal. Seandainya kucing sih masih mending. Heran
saya, sembarang saja sekarang dijual, saya kira hanya BBM yang harganya
selangit padahal binatang buas kayak rubah saja masih mahal.
Seorang cucu seakan-akan keluar dan
duduk di sampingnya, lalu merebut Koran tanpa sopan dari kakeknya dan sambil
nyeroscos.
Tokoh kakek berubah peran menjadi cucu.
Cucu : Saya juga Kek mau baca. Sapa tau
ada lowongan kerja, biar nggak nganggur trus. Kan jadi bisa ikut bayar pajak
kalau dah kerja. Siapa tau bisa nambah-nambah biaya untuk membantu fakir
miskin.
Tokoh kakek berubah peran lagi
menjadi kakek.
Kakek : Ah bayar pajak, sekarang mah
kita nggak usah disiplin dengan pajak, lagian pajak juga sekarang kalau
dihitung-hitung mungkin hanya berapa persen dari yang terkumpul dipakai dengan
benar, kebanyakan lari ke saku rubah-rubahnya pemerintahan.
Tokoh kakek berubah perannya
menjadi cucu.
Cucu : Ah Kakek bisa aja, tidak semuanya
begitukan Kek. Pasti masih ada deh yang bener pejabat pemerintah. Pejabat yang
kayak rubah mah kayaknya nggak banyak amat tuh.
Tokoh kakek kembali berperan
menjadi kakek
Kakek : Malah kalau menurut Kakek lebih banyak
yang kayak rubah, licik dan buas, menghalalkan segala cara dan nggak tau diri
serta tidak memakai uang semaunya.
Tokoh kakek kembali berubah peran
menjadi cucu
Cucu
: Iya juga sih, tapi Kakek nggak boleh menjastifikasi semuanya kayak rubah
entar Kakek dituntut melakukan pencemaran nama baik lho.
Tokoh kakek kembali menjadi kakek
Kakek : Aduh kamu kira saya akan takut
dengan tuntutan macam itu, kalau dia lapor polisi lapor aja. Karena saya berani
taruhan kalau yang saya katakan ini memang benar-benar terjadi makanya saya nggak
bakalan takut meskipun harus berurusan dengan pengadilan. (Sambil menarik Koran
dari tangan sang cucu dan kembali membalik-balik Koran)
Tokoh kakek kembali berubah peran
menjadi cucu
Cucu
: Yah terserah dah Kakek mau ngomong apa, kakau saya mah biar pejabat pada
begitu kayak rubah licik, saya nggak mau ikut-ikutan jadi rubah. Kalau saya
ikut-ikutan gimana jadinya negeri ini. Nggak aka ada perubahan dong. (cucu
berjalan ke pintu masuk seakan-akan masuk)
Tokoh kakek kembali berperan
menjadi kakek
Kakek : Yah kalau hanya sendiri yang
punya pikiran kaya kamu tu nggak bakalan bisa ngerubah yang sudah mengakar. Rubah
ya tetap rubah. Dah dibiasain makan daging dari lahir ma induknya ya sampai
gede susah untuk berpindah ke makanan lain. Apalagi sudah dirasakan nikmatnya.
Sama dah dengan tu para koruptor dah terlanjur dibudidayakan berbuat bohong
dari kecil ya sampai tua. Apalagi kalau dah pegang uang banyak kayak nggak
pengen mati.
Tokoh kakek pun masuk dengan
membiarkan gelas dan korannya berada di atas meja.
Bagian II
Panggung tertata sseperti sebuah
ruang tamu yang agak mewah. Dengan beberapa foto keluarga yang tak lengkap
tanpa nenek tergantung dengan bingkai yang indah.
Kakek : Ada apa ya Pak? Tumben malam-malam
gini datang ke rumah saya. Pasti ada yang penting nih. ( Duduk berhadapan
dengan seorang tamu yang tidak lain adalah Pak desa).
Tokoh kakek berubah peran menjadi Pak
desa.
Pak desa : Maaf pak sudah mengganggu,
saya hanya mau menyampaikan pesan dari Pak Wawan salah satu warga kita. Dia
berencana akan mencalonkan diri menjadi anggota dewan. Karena bapak salah satu
warga yang dituakan, Pak Wawan sangat berharap bapak bisa ikut mendukung
kemenangan Pak Wawan.
Tokoh kakek berperan kembali
menjadi kakek
Kakek : Oh gitu, kok Bapak jadi ikut
terlibat di dunia politik? Aparat desa kan dilarang ikut terjun ke dunia
politik selama jabatannya belum berakhir. Eh kalau masalah mendukung, saya
pasti mendukung. Yang penting tujuannya Pak Wawan jadi anggota dewan bagus
bukan karena ingin jadi rubah.
Tokoh kakek berubah peran menjadi Pak
desa
Pak desa : Tidak Pak, bukan karena saya
yang datang menyampaikan hal ini trus dah berarti saya terjun ke dunia politik.
Saya hanya dimintai tolong oleh Pak Wawan, karena setelah saya menolong, Beliau
bilang akan membantu saya nantinya mempertahankan jabatan saya sebagai Kepala
Desa. Kalau begitu saya permisi dulu Pak. (Sambil seakan-akan berlalu dan masuk
ke pintu panggung)
Tokoh kakek kembali menjadi kakek
dan menghela napas panjang
Kakek : Dasar dunia dah dipenuhi dengan
rubah bukan hanya pejabat tinggi, aparat desa pun ada yang jadi rubah.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar