Translate

Kamis, 07 Juni 2012

RUBAHNYA PEMERINTAHAN





Bagian I
Dalam situasi panggung yang seakan-akan sangat sunyi, panggung  yang  berlatar  di sebuah teras rumah masih diterangi lampu yang remang. Saat hari sudah mulai beranjak siang seorang kakek keluar dan duduk di teras dengan senyum yang segar.
Kakek : Cepat sekali berlalu malam, padahal saya belum merasa puas tidur semalaman. Apa ini pengaruh karena kemarin saya terlalu banyak bekerja? Sehingga saya sangat lelah dan membutuhkan waktu untuk beristirahat yang cukup.
Beranjak dari duduknya, kemudian masuk, dan kembali keluar dengan membawa secangkir teh dan Koran.
Kakek : Huh…beritanya yang begini-begini terus. Hah! Gila ini iklan, menjual rubah dengan harga selangit gitu siapa yang tertarik. Apa juga gunanya mau beli rubah.
Menggeleng-gelengkan kepalanya sambil meneguk tehnya.
Kakek : Rubah..rubah… kaya emas aja, dijual mahal-mahal. Seandainya kucing sih masih mending. Heran saya, sembarang saja sekarang dijual, saya kira hanya BBM yang harganya selangit padahal binatang buas kayak rubah saja masih mahal.
Seorang cucu seakan-akan keluar dan duduk di sampingnya, lalu merebut Koran tanpa sopan dari kakeknya dan sambil nyeroscos.
Tokoh kakek  berubah peran menjadi cucu.
Cucu : Saya juga Kek mau baca. Sapa tau ada lowongan kerja, biar nggak nganggur trus. Kan jadi bisa ikut bayar pajak kalau dah kerja. Siapa tau bisa nambah-nambah biaya untuk membantu fakir miskin.
Tokoh kakek berubah peran lagi menjadi kakek.
Kakek : Ah bayar pajak, sekarang mah kita nggak usah disiplin dengan pajak, lagian pajak juga sekarang kalau dihitung-hitung mungkin hanya berapa persen dari yang terkumpul dipakai dengan benar, kebanyakan lari ke saku rubah-rubahnya pemerintahan.
Tokoh kakek berubah perannya menjadi cucu.
Cucu : Ah Kakek bisa aja, tidak semuanya begitukan Kek. Pasti masih ada deh yang bener pejabat pemerintah. Pejabat yang kayak rubah mah kayaknya nggak banyak amat tuh.
Tokoh kakek kembali berperan menjadi kakek
Kakek : Malah kalau menurut Kakek lebih banyak yang kayak rubah, licik dan buas, menghalalkan segala cara dan nggak tau diri serta tidak memakai uang semaunya.
Tokoh kakek kembali berubah peran menjadi cucu
Cucu : Iya juga sih, tapi Kakek nggak boleh menjastifikasi semuanya kayak rubah entar Kakek dituntut melakukan pencemaran nama baik lho.
Tokoh kakek kembali menjadi kakek
Kakek : Aduh kamu kira saya akan takut dengan tuntutan macam itu, kalau dia lapor polisi lapor aja. Karena saya berani taruhan kalau yang saya katakan ini memang benar-benar terjadi makanya saya nggak bakalan takut meskipun harus berurusan dengan pengadilan. (Sambil menarik Koran dari tangan sang cucu dan kembali membalik-balik Koran)
Tokoh kakek kembali berubah peran menjadi cucu
Cucu : Yah terserah dah Kakek mau ngomong apa, kakau saya mah biar pejabat pada begitu kayak rubah licik, saya nggak mau ikut-ikutan jadi rubah. Kalau saya ikut-ikutan gimana jadinya negeri ini. Nggak aka ada perubahan dong. (cucu berjalan ke pintu masuk seakan-akan masuk)
Tokoh kakek kembali berperan menjadi kakek
Kakek : Yah kalau hanya sendiri yang punya pikiran kaya kamu tu nggak bakalan bisa ngerubah yang sudah mengakar. Rubah ya tetap rubah. Dah dibiasain makan daging dari lahir ma induknya ya sampai gede susah untuk berpindah ke makanan lain. Apalagi sudah dirasakan nikmatnya. Sama dah dengan tu para koruptor dah terlanjur dibudidayakan berbuat bohong dari kecil ya sampai tua. Apalagi kalau dah pegang uang banyak kayak nggak pengen mati.
Tokoh kakek pun masuk dengan membiarkan gelas dan korannya berada di atas meja.
Bagian II
Panggung tertata sseperti sebuah ruang tamu yang agak mewah. Dengan beberapa foto keluarga yang tak lengkap tanpa nenek tergantung dengan bingkai yang indah.
Kakek : Ada apa ya Pak? Tumben malam-malam gini datang ke rumah saya. Pasti ada yang penting nih. ( Duduk berhadapan dengan seorang tamu yang tidak lain adalah Pak desa).
Tokoh kakek berubah peran menjadi Pak desa.
Pak desa : Maaf pak sudah mengganggu, saya hanya mau menyampaikan pesan dari Pak Wawan salah satu warga kita. Dia berencana akan mencalonkan diri menjadi anggota dewan. Karena bapak salah satu warga yang dituakan, Pak Wawan sangat berharap bapak bisa ikut mendukung kemenangan Pak Wawan.
Tokoh kakek berperan kembali menjadi kakek
Kakek : Oh gitu, kok Bapak jadi ikut terlibat di dunia politik? Aparat desa kan dilarang ikut terjun ke dunia politik selama jabatannya belum berakhir. Eh kalau masalah mendukung, saya pasti mendukung. Yang penting tujuannya Pak Wawan jadi anggota dewan bagus bukan karena ingin jadi rubah.


Tokoh kakek berubah peran menjadi Pak desa
Pak desa : Tidak Pak, bukan karena saya yang datang menyampaikan hal ini trus dah berarti saya terjun ke dunia politik. Saya hanya dimintai tolong oleh Pak Wawan, karena setelah saya menolong, Beliau bilang akan membantu saya nantinya mempertahankan jabatan saya sebagai Kepala Desa. Kalau begitu saya permisi dulu Pak. (Sambil seakan-akan berlalu dan masuk ke pintu panggung)
Tokoh kakek kembali menjadi kakek dan menghela napas panjang
Kakek : Dasar dunia dah dipenuhi dengan rubah bukan hanya pejabat tinggi, aparat desa pun ada yang jadi rubah.
SELESAI




Tidak ada komentar:

Posting Komentar