Translate

Kamis, 07 Juni 2012

Contoh Teks Pidato



         Pidato pada sosialisasi kesehatan dari mahasiswa cinta sehat dalam melaksanakan program kerja tahunan di beberapa tingkat satuan pendidikan dan khususnya pidato ini dibawakan di …..
Assalamualaikum Wr.Wb.
Bapak kepala SMAN 1 Tinanggea yang saya hormati
Para dewan guru SMAN 1 Tinanggea yang saya hormati
Siswa SMAN 1 Tinanggea yang saya banggakan
         Tak ada yang lebih mulia selain mrnghaturkan puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat ddan hidayah-Nyalah kita diberi kesempatan untuk berkumpul diruang aula SMAN 1 tinanggea dalam keadaan baik.
          Rasa bangga yang tak terhingga yang saya rasakan saat ini karena mendapat kesempatan berdiri dan berbicara dihadapan keluarga besar SMAN 1 Tinanggea. Kehadiran saya dihadapan rekan-rekan sekalian yang telah bersedia meluangkan waktunya adalah sebagai salah satu utusan mahasiswa cinta sehat yang sedang melaksanakan program kerja tahunannya yaitu sosialisasi. Dalam rangka berbagi pengetahuan yaitu khususnya mengenai bahaya rokok.
Rekan-rekan yang sama berbahagia,
          Rokok bukanlah hal yang asing lagi ditelinga kita bahkan sudah sangat familiar bentuk dan wujudnya. Rokok pun dapat ditemukan dimana saja. Dan lebih disayangkan lagi sebagian orang menjasikan rokok sebagai kebutuhan primer yang harus mereka penuhi.
Ketahuilah rekan-rekanku sekalian,
          Setiap kali menghirup rokok baik itu disengaja atau tidak sama dengan menghisap 4000 macam racun. Rook adalah pintu gerbang yang luas menuju ke dalam narkoba, lebih spesifiknya lagi rokok termasuk dari bagian narkoba. Penikmat rokok sebenarnya mengalami beberapa tahapan sehingga menjadi ketergantungan yaitu yang pertama, tahapan coba-coba atau eksperimen oleh seseorang akan efek dan rasaang diperoleh setelah mengisap rokok. Selanjutnya tahap coba-coba itu menjadi rutin dilakukan karena suatu zat yaitu zat nikotin yang member efek ketergantungan telah berpengaruh dan membuat orang itu kecanduan.
         Ada hal penting yang perlu kita ketahui mengapa rokok Nampak menjadi momok yang sangat berbahaya. Rokok merupakan benda kecil yang mengandung beberapa jenis racun berdasarkan hasil penelitian WHO. Selain tembakau sebagai bahan dasar dari rokok terdapat beberapa bahan lain sebagai pelengkapnya yang sebenarnya tidak layak dikonsumsi. Seperti halnya amoniak, zat yang merupakan bahan pembersih lantai; karbondioksida yang merupakan zat buang dari knalpot; tar merupakan bahan pengeras jalan; nikoti merupakan pestisida; formalin merupakan zat yang kegunaannya untuk mengawetkan mayat;  hydrogen sianida merupakan racun untuk hokum mati; dan masih banyak lagi.
          Zat-zat yang saya sebutkan tadi semua terkandung dalam rokok. Sebelum rokok dibakar dan menghasilkan asap sudah beracun apalagi setelah menjadi asap. Zat-zat yang disebutkan tadi setelah dibakar akan berubah wujud. Seperti halnya tar setelah rokok dibakar tar akan berubah menjadi uap padan dan ikut langsung bersama asap yang langsung menuju ke dalam rongga mulut dan di dalam rongga mulut akan mengalami pendinginan dan berubah menjadi endaoan yang menempel pada gigi. Selanjutnya ada juga karbondioksida yang merupakan gas buang dari kealpot dan pembakaran manusia yang mengandung racun, apabila mengalami pembakaran akan berubah menjadi karbonmonoksida yang jika terhirup akan sangat berbahaya karena karbonmonoksida memiliki kecenderungan lebih cepat mengikat hemoglobin dibandingkan dengan oksigen. Tetapi mengedarkan kebgian tubuh sangat lambat sehingga menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Dan masih banyak lagi yang kesemuanya dapat menyebabkan timbulnya penyakit.
        Rekan-rekanku yang sama berbahagia ,
        Bahkan, ternyata hal-hal yang mengerikan itu bukan hanya diperoleh oleh perokok melainkan orang disekitar perokok itupun memiliki potensi yang lebih besar mendapatkan efeknya. Nah, inilah yang dikenal dengan istilah perokok pasif dan perokok aktif. Penting diperhatikan memisahkan perokok aktif dan perokok pasif.
         Kesehatan sangat mahal harganya. Jadi, kita sebagai penerus bangsa yang ada dikalangan akademisi yang mampu lebih cepat memperoleh informasi yang berkaitan dengan kehidupan kita sehari-hari dan mampu membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk. Sehingga jangan sampai kita menjamah rokok karena saya yakin rekan-rekan sekalian sudah tahu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan rokok.
          Indonesia Negara tercinta kita ini merupakan Negara yang termasuk pada tataran teratas sebagai pengonsumsi rokok terbesar di dunia setelah USA. Tanpa disadari hal ini menambah keterpurukan idonesia. Dan banyak investor asing yang berlomba-lomba untuk menanamkan modalnya membuka usaha mereka. Bahkan untuk mendapat izin mendirikan pabrik di Indonesia. Hal ini tetap berlangsung, tanpa kita temukan usaha-usaha serius dari pemerintah untuk memerangi rokok. Menjadikan pertanyaan besar dibenak kita semua. Tapi sebenarnya jawabannya cukup sederhana yaitu karena perusahaan rokoklah sebagai penyumbang panjak tertinggi di Negara kita sehingga dianggap mampu menambah devisa Negara dengan persentase yang cukup tinggi hingga mencapai empat puluh persen. Bahkan dibentengi dengan kokoh oleh para politikus dan pebisnis yang memilliki paham bahwa perusahaan rokok merupakan pohon uang untuk Negara kita.
          Tetapi tetap perlu disadari, bahwa rokok merupakan penyebab kematian tertinggi menurut catatan dibeberapa rumah sakit besar di Indonesia. Jadi, percuma saja meskipun devisa dari rokok begitu tinggi tapi biaya yang digunakan untuk penyediaan fasilitas dan bantuan bagi orang-orang yang terkena penyakit akibat rokok lebih tinggi. Jadi, kita memang harus tetap memerangi rokok meskipun pemerintah sangat mustahil untuk melarang pabrik beroperasi.
Saudara-saudara yang sama berbahagia,
          Agama atau kepercayaan apapun pasti melarang umatnya untuk mengkonsumsi hal-hal yang merugikan, apalagi mampu membuat ketergantungan atau kecanduan dan rokok masuk salah satunya. Sangat disayangkan jika sampai aada orang-orang yang sudah mengetahui kandungan dan akibat yang akan diterima bila mengkonsumsi rokok tetapi masih tetap ingin mencoba.
          Sebenarnya tidak sulit untuk meninggalkan kebiasaan merokok yang telah menjalar sebagai rutinitas dekehidupan seseorang. Hanya butuh modalberupa niat yang tinggi dan serius untuk berhenti, support dari banyak pihak dan kepercayaan diri meskipun tak bias meninggalkan sekaligus, tetapi yakin dan percaya tak butuh waktu lama untuk mencapainya. Jadi ,dapat disimpulkan bahwa rokok merupakan kegiatan bodoh yang dilakukan oleh umat manusia dan bagi kita yang belum terpengaruh tetaplah perangi rokok.
      Demikian yang dapat saya sampaikan semoga memberikan gambaran dan dijadikan pertimbangan kedepannya. Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan dan saya ucapkan terimakasih atas perhatiannya.
Wassalamualaikum Wr.Wb.

Feature

 
Maut Mengawali Hari Terakhir Ujian Tantri

          Kepanikan dialami seorang siswa SMA N 1 Tinanggea kabupaten Konawe Selatan dihari terakhir pelaksanaan ujian Nasional. Seorang siswa kelas XII IPA yang bernama Tantri mengalami kejadian yang sangat tragis.  tepat dipagi hari sebelum tiba disekolah, siswa yang kesehariannya mengendarai motor untuk sampai di sekolahnya mengalami tragedi yang sangat tidak diharapkan. Tantri yang harus mengendarai motor 7 km untuk tiba disekolahnya dari rumah kediamannya, mengalami kecelakaan motor yang berakibat sangat fatal.
          Kamis, 21 April 2011 Tantri menabrak seorang anak kecil yang sedang menyebrang jalan ketika meniltas. Anak kecil yang masih lugu dan belum terlalu tau seluk beluk jalan raya, tewas ditempat. Karena peristiwa ini terjadi tepat di depan rumah korban yang ditabrak membuat orang tua korban meras sangat terpukul. Kejadi ini membuat pula para tetangga merasa sangat sedih dan tidak menyangka. Kejadian tragis yang menimpa anak kedua bersaudara inilah penyebab kepanikan yang dialami Tantri.
          Kejadian ini terjadi berawal kan si korban anak kecil yang bernama Fadli ternyata seorang anak yang baru duduk di salah satu sekolah taman kanak-kanak. Ketika itu Fadli hendak pergi ke sekolah dan akan diantar oleh kakak korban yang menunggu diseberang jalan. Ketika Fadli menyebrang, saat bersamaan Tantripun melintas dengan kecepatan yang cukup tinggi sehingga menabrak si Fadli yang malang hingga terlempar cukup jauh hingga akhirnya meninggal.
          Ketika kejadian itu berlangsung bertepatan dengan pelaksanaan ujian yang terakhir. Tantri hanya bias terdiam tidak dapat berkata-kata karena saking syok dengan apa yang tengah ia alami. Hanya air mata yang bias di keluarkan oleh Tantri sebagai luapan rasa takut dan panik ketika tidak menyangka akan mengalami hal tragis seperti yang di alami saat itu. Tantri sangat pasrah, apalagi disaat itu orang tua korban langsung menelpon polisi setempat.
Kedatangan polisi menambah ketakutan yang dirasakan oleh Tantri. Namun, pihak polisi dan korban memberikan kebijakan kepada Tantri untuk ke sekolah mengikuti ujian, dengan catatan pihak kepolisian ikut serta mengawasi. Dapat dipastikan pada saat Tantri mengerjakan soal-soal ujian Nasional tidak ada konsentrasi.
         Kesedihan mendalam bukan hanya di alami oleh korban dan Tantri melainkan teman-teman Tantripun banyak yang merasa  sedih. Begitu berat musibah yang menimpah siswa SMA ini karena harus melaksanakan ujian dengan pikiran sembraut. Orang tua Tantri yang saling mengenal dengan orang tua korban hanya mampu mengatakan maaf. Tidak ada dendam yang tampak dari orang tua korban namun tetap harus ditindaki pihak kepolisian. Sehingga selama ujian Tantri dijaga dan di awasi oleh pihak kepolisian. 
         Selesai ujian, tanpa pulang kerumah lagi, Tantri langsung dibawa kemapolres punggaluku untuk diinterogasi. Orang tua korban, orang tua tantric dan beberapa saksi telah menunggu untuk dimintai keterangan.

SEKUEN DALAM CERPEN AWAN-AWAN SENJA



1.      Walaupun matanya telah buta 60 tahun dia masih bisa membayangkan indahnya kota solo
2.      Merasa sudah dekat ajalnya bahkan sudah mendapat tanda akan dipanggil sampai pingsan dan untung dibantu dengan seorang penjual rokok, dia menceritakan semua perjalanan hidupnya
3.      Dari umurnya 23 tahun sebelum dia buta diceritakan perjalanan hidupnya sebagai seorang priayi yang bernama Ndorobei
4.      Menunggang kuda adalah  Kegemaran Ndorobei
5.      Masih muda dan cakap pujian orang-orang untuk Ndorobei
6.      Berdandan sangat digemari Ndorobei
7.      Disuruhnya  Senen sebagai abdi untuk menyiapkan Duren kudanya suatu pagi oleh Ndorobei
8.      Disebuah simpan jalan seorang gadis muncul
9.      Terpesona Ndorobei dengan kata-kata gadis itu
10.  Dilatihnya duren berlari dari padang luas ketimur alun-alun hingga kepinggir sungai Bengawan Solo oleh Ndorobei
11.  Menjelang sore, Ndorobei memacu Duren kembali ke kota dan di jalan bertemu lagi dengan gadis yang sama dengan diwaktu pagi
12.  Sampai di rumah, Senen abdi Ndorobei memberitahu bahwa Dimas Pradopo datang untuk mengajak Ndorobei pergi dikeramaian waktu malam
13.  Sambil duduk dikursi goyang Ndorobei bertanya pada Senen mengenai keluarga gadis yang ditemui tadi pagi meski tidak langsung pada masalah gadisnya.
14.  Dimengertinya pertanyaan tuanya oleh Senen dan menjelaskan dengan panjang lebar dan memberitahu nama gadis itu yaitu tinah.
15.  Datanglah  Dimas Pradopo mengajak Ndorobei tapi Ndorobei tidak ingin pergi alasan lelah habis berkuda seharian
16.  Setelah Dimas Pradopo pergi Senen memberitahukan tuanya bahwa Tinah telah memiliki calon suami yang dikarenakan hutang orang tuanya
17.  Mengetahui tentang hal itu Ndorobei kecewa dan tidak ingin lagi membahasa tentang Tinah dengan cara memejamkan matanya
18.  Tertidur dikursi goyang dan ditengah malam terjaga, lalu pindah di kamarnya namun Ndorobei tidak dapat tidur lagi hingga subuh dan memutuskan pergi berjalan-jalan menunggu pagi datang
19.  Berjalan menuju lorong kecil dan n Ndorobei pun bertemu lagi dengan Tinah
20.  Kembali pulang dan dipagar rumah Ndorobei telah disambut dengan Senen dengan sindiran
21.  Malah hari Senen disuruh oleh Ndorobei meamnggil  Mbok Joyo ibu Tinah dan tinak untuk datang kerumahnya
22.  Keesokan malamnya Mbok Joyo ibu Tinah dan tinak datang kerumah ke rumah Ndorobei dan disuruhnya Mbok dan Tinah menempati rumah kecil dibelakang rumah Ndorobei
23.  Ditolaknya dengan sopan oleh Mbok Joyo dengan alasan rumah itu sudah diberikan pada Tinah oleh calon suaminya
24.  Keesokan harinya tiba-tiba Tinah datang dengan tangisan di rumah Ndorobei, kemudian Ndorobei menanyakan penyebabnya tapi tinah tidak berkata-kata
25.  Dipanggilnya Mbok Joyo dan ditanyai mengenai Tinah.
26.  Tinah diminta tinggal beberapa hari untu diberi nasehat oleh ndorobei
27.  Setelah seminggu Tinah dirumah Ndorobei maka Ndorobei pergi mengantarnya pulang kerumahnya pada malam hari
28.  Di perjalanan pulan Ndorobei dan tinah dipalang oleh calon suami Tinah dan tiga orang temanya
29.  Dipukuli Ndorobei dan ditusukan belati kedua matanya hingga buta dan Tinah diseret dan di ikat di bawah pohon nangka
30.  Setelah sembuh Ndorobei pindah kekampung dan menjual semua hartanya lalu dibagikan pada sanak saudaranya
31.  Ndorobei tinggal dikampung sebagai seorang tukang pijat dengan keadaan buta dan senen juga tinggal dikampung
32.  Setelah beberapa tahun pelanggannya berkurang Ndorobei pindah kembali ditempatnya semula dan meneruskan pekerjaannya menjadi tukang pijit.
33.  Suatu malam tidak disangka Tinah datang dirumahnya dan dalam keadaan buta pula.
34.  Beberapa hari tinggal bersama Tinah menceritakan perjalannya dari waktu mereka dipalang hingga sekarang pada Ndorobei
35.  Tidak lama tinggal bersama Tinah meninggal
36.  Ndorobei menggu ajalnya tiba dengan tabah

Naskah Monolog

TIKUS TELADAN PARA KORUPTOR

Bagian I
Di panggung tertata rapi sebuah ruang makan dengan meja makan yang agak usang serta lemari makanan yang sudah terlihat rapuh, seorang ibu sedang duduk di salah satu kursi makan tersebut sedang memegang piring kosong.
Ibu  : Di mana lagi sa bisa melamar pekerjaan di’? Sudah seluruh pelosok kotami sa telusuri, tapi tida ada satu pun  yang terima lamaranku. Uang memang berharga sekali, tidak heran kenapa sulit sekali dapat uang.
Berjalan ke lemari dan membuka, melihat isi dalam lemari. Lalu kembali duduk
Ibu : Tidak ada kasian sedikit saja makanan yang terlihat di rumah ini. Bayangkan saja, uang sudah pas-pasan untuk beli makanan dua porsi,saya dengan anaku. Tapi ada juga pencuri yang ikut minta berbagi. Saya ingin sekali rasanya buat tempat persembunyian makanan yang lebih layak, tapi itumi uang tidak sampai ke situ.
Criiiicit..criiicit…criccccit…..
Ibu : Wah, rupanya ko datang lagi. Dasar pencuri tidak tau diri, kenapa tidak pergi mencuri di rumahnya orang kayakah? Tidak ada kasian makananku biar secuil. Ini pencuri seandainya ko itu orang, sudah lamami sa jebloskan ko di penjara, tapi kamu hanya seekor tikus bella. Pantas kasian ko sering masuk Tv kalau lagi ada berita korupsi pasti ada mukamu yamg terpampang. Sa tidak mengerti bela.
Ibu memasang muka kaget, lalu seakan-akan anaknya masuk
Ibu : Eh kamu Gung datangmiko nak? Cepatnyami ko pulang, ko tidak bolosji itu?
Pause, menjadi anak
Anak : Bisanya sa bolos ma. Ada yang meninggal kasian keluarganya kepala sekolahku, guru- guruku da pergi semua melayat makanya siswanya dikasi pulang.
Pause, menjadi ibu tua
Ibu :  Iyokah kasian. Eh sa belum memasak ini, jangan dulu ko minta makanna? Ada sebenarnya sisanya tadi malam sa sudah panasi tadi pagi tapi duluan itu tikus yang dapat. Sabar-sabar ko duluna?
Pause, menjadi anak
Anak : Betul-betul itu tikus di ma, sudah berapa kalimi kasian kena perangkap tapi belum kapok-kapok juga da datang mencuri. Da bilang ibu guruku itu tikus ada keistimewaanya tawwa. Itu tikus biar pencuri tapi sifatnya dengan tekniknya dijadikan teladan dengan para pejabat negeri. Maksudnya banyak pejabat ikut-ikut sifatnya tikus da suka juga curi-curi barangnya orang biar yang pas-pasan kaya kita kasian da curi juga.
Pause, menjadi ibu tua
Ibu : Iyokah? Tapi betul juga tawwa itu da bilang ibu gurumu. Eh ko pergimi dulu ganti     bajumu. Sa mau pi dulu di rumahnya nenemu.
Pause, menjadi anak
Anak : Iyodi. Kita hati-hati palena mama. (seakan-akan masuk ke pintu panggung)
Pause, menjadi ibu tua
Ibu : Sa pergi dulu pinjam berasnya mamaku deh, semoga da kasiji saya. (masuk ke pintu panggung yang lain)
Bagian II
Di ruang tamu mama dari ibu Agung. Mereka duduk berhadapan di kursi yang sudah usang berceloteh tanpa beban, dengan gaya duduk yang kurang sopan menaikkan kedua kaki mereka masing-masing.
Ibu : Ma, sa pusing mi ini semenjak tida adami suamiku sa setengah mati mi, mau makan saja susah. Sa cape kasian kesana kemari cari pekerjaan tapi tidak ada sa dapat. Ini hari lagi biar dua biji tida adami berasku. Sa datang ini sa mau pinjam berasta mama. Kita mauji?
Pause, menjadi mama
Mama :  Iyo ambil saja, sa mauto. Tapi itu beras ko cuci bae-bae. Bagaimana kaya habis ada tikus yang korek-korek ada sa lihat tainya di beras tadi pagi.
Pause, menjadi ibu
Ibu : Astaga… adakah juga tikus disini? Sa kira di rumahkuji yang banyak tikus, padahal di sini juga pale. Betul-betul itu tikus kurang ajar kasian. Mentang-mentang da dijadikan teladan sama kebanyakan para pejabat negeri da merajalelami juga.
Pause, menjadi mama
Mama ; Apa maksudmu? (dengan muka bingung)
Pause, menjadi ibu
Ibu :  Kita pernahji nonton beritanya koruptor kah, itu pejabat pemerintahan yang suka sepe-sepe* uangnya rakyat, pasti kasian da mukanya tikus dipampang. Karena itumi yang sa bilang tadi. Sifatnya koruptor dengan tikus hampir sama, bagaimana tida sama ternyata da bilang ibu gurunya Agung itu koruptor da pergi contoh sifat dan caranya tikus mencuri.
Pause, menjadi mama
Mama : Ada-ada saja.
Pause, menjadi ibu
Ibu : Kenapa ada-ada saja, memang begitu. Lagi panas-panas hae sekarang pencurian terang-terangan. Maksudnya korupsi, eh kita taujika apa itu korupsi? Itu korupsi to samaji dengan mencuri. Mama sa pinjam dulu berastana? Kita ambilkan saja saya 1 liter untuk dengan malamnya.

Pause, menjadi mama
Mama : Iyoji, eh sa masih penasaran ini, kenapa pale itu sa nonton berita da belum-belum juga dipenjara para koruptor padahal sudah jelas-jelasmi da mencuri. Sudah terbukti tapi tiba-tiba berubah lagi. Atau gara-gara da bayar saja polisi. Enaknyami kalau begitu biar kita pi mencuri sesering mungkin kita tidak dipenjaraji yang penting ada uangta untuk bayar polisi.
Pause, menjadi ibu
Ibu : Iyo da bayar katanya polisi. Makanya nanti sa mau suruh Agung da jadi polisi biar banyak uangnya. Belum gajinya yang sudah berjuta-juta ditambah lagi bayaran kalau ada yang dipenjara tapi tida mau dipenjara. Huh sa kayami nanti. Manami beras?
Pause menjadi mama
Mama : Marimi, (sambil masuk seakan-akan bersama-sama ke pintu panggung) ko ambilmi sendiri.
*menyelipkan(Bahasa Bugis)

Selesai




RUBAHNYA PEMERINTAHAN





Bagian I
Dalam situasi panggung yang seakan-akan sangat sunyi, panggung  yang  berlatar  di sebuah teras rumah masih diterangi lampu yang remang. Saat hari sudah mulai beranjak siang seorang kakek keluar dan duduk di teras dengan senyum yang segar.
Kakek : Cepat sekali berlalu malam, padahal saya belum merasa puas tidur semalaman. Apa ini pengaruh karena kemarin saya terlalu banyak bekerja? Sehingga saya sangat lelah dan membutuhkan waktu untuk beristirahat yang cukup.
Beranjak dari duduknya, kemudian masuk, dan kembali keluar dengan membawa secangkir teh dan Koran.
Kakek : Huh…beritanya yang begini-begini terus. Hah! Gila ini iklan, menjual rubah dengan harga selangit gitu siapa yang tertarik. Apa juga gunanya mau beli rubah.
Menggeleng-gelengkan kepalanya sambil meneguk tehnya.
Kakek : Rubah..rubah… kaya emas aja, dijual mahal-mahal. Seandainya kucing sih masih mending. Heran saya, sembarang saja sekarang dijual, saya kira hanya BBM yang harganya selangit padahal binatang buas kayak rubah saja masih mahal.
Seorang cucu seakan-akan keluar dan duduk di sampingnya, lalu merebut Koran tanpa sopan dari kakeknya dan sambil nyeroscos.
Tokoh kakek  berubah peran menjadi cucu.
Cucu : Saya juga Kek mau baca. Sapa tau ada lowongan kerja, biar nggak nganggur trus. Kan jadi bisa ikut bayar pajak kalau dah kerja. Siapa tau bisa nambah-nambah biaya untuk membantu fakir miskin.
Tokoh kakek berubah peran lagi menjadi kakek.
Kakek : Ah bayar pajak, sekarang mah kita nggak usah disiplin dengan pajak, lagian pajak juga sekarang kalau dihitung-hitung mungkin hanya berapa persen dari yang terkumpul dipakai dengan benar, kebanyakan lari ke saku rubah-rubahnya pemerintahan.
Tokoh kakek berubah perannya menjadi cucu.
Cucu : Ah Kakek bisa aja, tidak semuanya begitukan Kek. Pasti masih ada deh yang bener pejabat pemerintah. Pejabat yang kayak rubah mah kayaknya nggak banyak amat tuh.
Tokoh kakek kembali berperan menjadi kakek
Kakek : Malah kalau menurut Kakek lebih banyak yang kayak rubah, licik dan buas, menghalalkan segala cara dan nggak tau diri serta tidak memakai uang semaunya.
Tokoh kakek kembali berubah peran menjadi cucu
Cucu : Iya juga sih, tapi Kakek nggak boleh menjastifikasi semuanya kayak rubah entar Kakek dituntut melakukan pencemaran nama baik lho.
Tokoh kakek kembali menjadi kakek
Kakek : Aduh kamu kira saya akan takut dengan tuntutan macam itu, kalau dia lapor polisi lapor aja. Karena saya berani taruhan kalau yang saya katakan ini memang benar-benar terjadi makanya saya nggak bakalan takut meskipun harus berurusan dengan pengadilan. (Sambil menarik Koran dari tangan sang cucu dan kembali membalik-balik Koran)
Tokoh kakek kembali berubah peran menjadi cucu
Cucu : Yah terserah dah Kakek mau ngomong apa, kakau saya mah biar pejabat pada begitu kayak rubah licik, saya nggak mau ikut-ikutan jadi rubah. Kalau saya ikut-ikutan gimana jadinya negeri ini. Nggak aka ada perubahan dong. (cucu berjalan ke pintu masuk seakan-akan masuk)
Tokoh kakek kembali berperan menjadi kakek
Kakek : Yah kalau hanya sendiri yang punya pikiran kaya kamu tu nggak bakalan bisa ngerubah yang sudah mengakar. Rubah ya tetap rubah. Dah dibiasain makan daging dari lahir ma induknya ya sampai gede susah untuk berpindah ke makanan lain. Apalagi sudah dirasakan nikmatnya. Sama dah dengan tu para koruptor dah terlanjur dibudidayakan berbuat bohong dari kecil ya sampai tua. Apalagi kalau dah pegang uang banyak kayak nggak pengen mati.
Tokoh kakek pun masuk dengan membiarkan gelas dan korannya berada di atas meja.
Bagian II
Panggung tertata sseperti sebuah ruang tamu yang agak mewah. Dengan beberapa foto keluarga yang tak lengkap tanpa nenek tergantung dengan bingkai yang indah.
Kakek : Ada apa ya Pak? Tumben malam-malam gini datang ke rumah saya. Pasti ada yang penting nih. ( Duduk berhadapan dengan seorang tamu yang tidak lain adalah Pak desa).
Tokoh kakek berubah peran menjadi Pak desa.
Pak desa : Maaf pak sudah mengganggu, saya hanya mau menyampaikan pesan dari Pak Wawan salah satu warga kita. Dia berencana akan mencalonkan diri menjadi anggota dewan. Karena bapak salah satu warga yang dituakan, Pak Wawan sangat berharap bapak bisa ikut mendukung kemenangan Pak Wawan.
Tokoh kakek berperan kembali menjadi kakek
Kakek : Oh gitu, kok Bapak jadi ikut terlibat di dunia politik? Aparat desa kan dilarang ikut terjun ke dunia politik selama jabatannya belum berakhir. Eh kalau masalah mendukung, saya pasti mendukung. Yang penting tujuannya Pak Wawan jadi anggota dewan bagus bukan karena ingin jadi rubah.


Tokoh kakek berubah peran menjadi Pak desa
Pak desa : Tidak Pak, bukan karena saya yang datang menyampaikan hal ini trus dah berarti saya terjun ke dunia politik. Saya hanya dimintai tolong oleh Pak Wawan, karena setelah saya menolong, Beliau bilang akan membantu saya nantinya mempertahankan jabatan saya sebagai Kepala Desa. Kalau begitu saya permisi dulu Pak. (Sambil seakan-akan berlalu dan masuk ke pintu panggung)
Tokoh kakek kembali menjadi kakek dan menghela napas panjang
Kakek : Dasar dunia dah dipenuhi dengan rubah bukan hanya pejabat tinggi, aparat desa pun ada yang jadi rubah.
SELESAI




Takdir


Siang dan malamu kau dijamah dengan jemari banyak orang
Lembut dan kasarnya cara terlaksana tanpa teguran
Kau, yang tak punya waktu lama untuk berleha-leha
Berkualitas takdirmu lebih spesifiknya
Puitis kau disebut dan dinikmati isi dalammu
Tapi tak jarang yang arogan dan bengis untuk mencela
Berjejer gayamu bersaing dengan yang lain
Untuk dijamah dan hanya dinikmati
Karena kau tak dapat menikmati
Isimu tercipta dari perpaduan sel dan saraf istimewa
Maka, indah jika kubisa menikmati hasil dari menelaah intimmu.

LUKISAN BABI


Oleh
Kadek Linda Erma Wati

Bagian I

Suatu malam tokoh saya sedang di rumah sendiri. Di ruang tamunya, tokoh  saya terpaku menatap sebuah lukisan yang kata penjualnya lukisan yang bagus.

Tokoh saya : Dimana letak bagusnya lukisan itu, nggak ada bagus-bagusnya menurutku! Dasar perempuan, dirayu-rayu dikit aja ma penjual keliling dah kelepek-kelepek, uang yang harusnya bisa dibelikan ikan asin melayang dah jadi lukisan yang hanya diliatin nggak bisa dimakan.
Tokoh Saya beranjak meraba lukisan itu, sambil mengangkat bahu dan kembali duduk dengan muka kecewa.
Tokoh saya :  Siapa pelukisnya? Saya kok tiba-tiba penasaran ya? Apa mungkin dia penggemar babi, sampe-sampe babi yang dilukis aja lagi tiduran di atas spring bed. Alah-alah aku jadi ingat para koruptor yang nggak kalah rakus dengan babi. Siapa sih yang nggak tau kalau babi binatang rakus sampe-sampe kalau belum puas makan, makanan yang dah ditelan dimuntahin trus dimakan lagi, ih menjijikan. Nggak beda-beda jauh sama para koruptor dah ngejilat keringat rakyat kecil malah kalau bisa ditelan, ditelan dah.
Tokoh saya menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa nggak habis pikir, semuanya yang dipikirkan sekarang ini karena telah menatap lukisan babi. Sambil sesekali masih melirik lukisan.
Tokoh saya : Aduh saya jadi ingat teman saya yang punya tempat peternakan deh, salah satu binatang yang diternak tu babi. Saat itu saya sengaja mampir di tempat usahanya pengen liat-liat.
Tokoh saya mengganti posisi duduknya jadi agak bersandar di kursi dan mulai menceritakan pengalamannya.
Tokoh saya :  Dulu, waktu mampir saya dikira pembeli ma karyawan temen saya, saya disapa dengan sopan.
Pause, menjadi karyawan
Karyawan : Selamat datang mas, mau beli apa? Ayam, kambing, domba, babi atau sapi. Mari saya antar liat-liat. (dengan senyum sumringah)
Pause, menjadi tokoh saya
Tokoh saya : Saya cari bosmu, dia teman saya. Dimana ruangannya tolong antar saya. (sambil mengehela napas)
Pause, menjadi karyawan
Karyawan : Oh bos saya to mas kirain lagi cari ternak.  Kalau begitu mari saya antar mas. (sambil berjalan menuju sebuah rumah). Ini mas ruangannya, saya permisi mas. Mas silahkan masuk.
Pause, menjadi tokoh saya
Tokoh Saya : Wah, betapa terkejutnya saya saat itu, bagaimana tidak teman saya dah gendut kaya Ade Namnung. Padahal dulu hanya segede Aming. Trus saya sapa dah, hey sukses nih Man.
Pause, menjadi Arman teman tokoh saya
Arman : Eh elu Gus. Alhamdulilah, tumben liat kamu lagi makin cico aja lu. Penampilan elu dah kayak rintenir aja. Gimana kabar kamu?

Pause, menjadi tokoh saya
Tokoh Saya :  Baik-baik aja. Hebat kamu sekarang, dah punya peternakan macam-macam Man. Gimana nih cara kamu ngelolanya. Cita-cita jadi pejabat KPK kok malah jadi peternak sih. Sapa tau kalo elu beneran jadi anggota KPK bisa nyeret semua koruptor negeri yang dah meleleh kayak lumpur lapindo.
Pause, menjadi Arman
Arman : Ah biasa aja kok. Susah Gus kalo wong cilik kaya saya bisa jadi pejabat KPK. Pejabat di situ kan orang-orang pilihan. Eh dari pada ngomongin ntu mending kita diskusi yang ringan-ringan aja.  Kamu tau nggak binatang apa yang paling gampang saya pelihara disini?
Pause, menjadi tokoh saya
Tokoh Saya: Nggak tau, emang apa Man? Kayaknya sama semua deh. Kan kita semuanya yang nyiapin makanan mereka, jadi nggak ada bedanya deh. (menggaruk-garuk kepalanya penuh semangat antara bingung dan memang gatal karena ketombe)
Pause, menjadi Arman
Arman : Ada. Pastinya Gus nggak semua gampang, tapi yang satu ini emang beber-bener gampang. Kamu tau babi nggak? Tu binatang pokoknya yang paling gampang diurus. Nggak pilih-pilih makanan, makanan apa saja diembat. Trus biar nggak dimandiin berhari-hari nggak mudah kena penyakit. Entah karena tu babi pengotor apa karena babi memang punya daya tahan tubuh segudang.
Pause, menjadi saya
Tokoh saya :   Masa sih, kok mirip sifatnya koruptor, yang nggak itung-itung, biar uang apa aja diembat. Biar uang iuran masjid aja mungkin kalau bisa diembat,  diembat juga dah.
Guiiiiiitttt….guiiiit..guiiiit…. (suara babi tiba-tiba terdengar dari kandangnya)
Pause, menjadi teman
Arman : Tu kan, baru diomongin dah bersuara. Babi kan rakus jadi julukannya gampang karena makan apa aja lenyap. Kalau dibandingin dengan porsi makannya yang buanyak. Ini aja belum waktu makan dia dah teriak- teriak kayak nggak dikasih makan seminggu. Sama bener memang ma tu tikusnya pejabat yang nggak kenyang-kenyang makan uang rakyat. Dah dikasih jabatan, eh malah minta kekuasaan.
Pause, menjadi tokoh saya
Tokoh saya : Ya..ya.. bener..bener.. Man, gue setuju. Kira-kira kapan yah tu semua lenyap di negeri kita ini. Tapi ya udah, pusing amat sih. Biarpun mereka leluasa tapi nanti pasti akan dapat juga ganjarannya kalau dah pada mati. Eh ngomong-ngomong gue balik dulu ya!
Pause, menjadi teman
Arman : Oke deh, hati-hati ya!( sambil berjalan ke pintu panggung seakan-akan mengantar tokoh saya dan Arman pun masuk di pintu yang lain dari panggung)
Bagian II
Tokoh saya sambil mengusap-usap matanya membalikkan badan agak ke samping kiri dan geleng-geleng kepala.
Tokoh saya : Tu kan.. bener, babi emang sifatnya mirip banget ma koruptor. Trus ngapain gue masang tu lukisan ya. (sambil berjalan melepas lukisan dari dinding tempatnya digantung)
Tiba-tiba istri tokoh saya masuk dan sangat kaget melihat lukisan dicopot. Sambil seakan-akan mengangkat rok.
Pause, menjadi istri
Istri : Eh mas kenapa dicopot? Pasang…pasang cepet, enak aja main copot emang mau dikemanain?
Pause, menjadi tokoh saya
Tokoh Saya : nggak kok ma, cuman pengen liat lebih deket aja kok. Ntar papa pasang lagi dah, gih mama masuk aja. Eh papa lapar mau makan, siapin ya mah.
Pause, jadi istri
Istri : Iya aku siapin, kamu kaya tu babi kerjanya makan mulu, kerjanya senin kamis. Uh dasar geblek. (berlalu masuk ke pintu panggung)
Pause, menjadi tokoh saya
Tokoh saya : Enak aja saya dibilang mirip babi. Gara-gara ni lukisan jadi banyak yang mirip babi. Dibuang baru bagus (berjalan menuju pintu panggung dan membuang lukisan di pintu yang lain). Sono kamu di luar aja saya nggak mau kena hawa-hawa malas kamu. (berjalan ke pintu masuk)
Selesai